Archive for Tingkat Lanjut

Apr
14

Mengapa chrom di aluminium sulit ?

Posted by: | Comments (4)

Proses chrom di aluminium jauh lebih sulit di bandingkan chrom di besi, tembaga, kuningan ataupun zinc die casting.

Hal ini pasti dialami oleh mereka yang sudah pernah mencobanya.

Problem utama chrom di aluminium adalah daya rekatnya dan munculnya gelembung (blister), sehingga hasil chrom lebih mudah mengelupas.

Hasil chrom yang mempunyai daya rekat bagus, tidak akan mengelupas seperti sticker bila ditarik.

Ada beberapa penyebab kenapa chrom di aluminium sulit, diantaranya :

1. Aluminium termasuk logam amfoter (bisa berbentuk anion atau kation).

2. Aluminium mempunyai banyak jenis campuran (alloy) dengan logam lain.

3. Aluminium sangat mudah teroksidasi baik di udara maupun di air.

4. Gas Hydrogen bisa larut dalam aluminium cair pada saat pengecoran.

Hal ini yang menyebabkan proses chrom di aluminium membutuhkan perlakuan khusus dan pengetahuan tentang sifat-sifat dari aluminium atau aluminium alloy.

Aluminium alloy bisa dikelompokkan menjadi sekitar 20 jenis, dan setiap jenis membutuhkan perlakuan yang berbeda pada saat proses chrom.

Untuk modif motor diperkirakan ada 5 jenis aluminium alloy yang umum digunakan.

Pada pengecoran aluminium di Indonesia, kadang tidak jelas komposisinya, dan proses pengadukannya kurang sempurna sehingga hasil pengecoran tidak homogen.

Hal inilah yang menyebabkan pelaku bengkel chrom mengalami kesulitan untuk menghasilkan chrom yang bagus.

Contoh kasus 1 :

Ada bengkel chrom pembeli paket kami yang mengerjakan tutup samping mesin motor original.

Hasil chromnya sebetulnya sudah bagus, hanya ada satu bagian yang muncul gelembung. Kemudian diperbaiki dan dichrom ulang, hasilnya tetap muncul gelembung di lokasi yang sama.

Setelah diperhatikan, pada saat proses zincate, ternyata warna lapisan zincate pada bagian tersebut berbeda warnanya.

Hal ini dikonsultasikan ke kami, dan menurut analisa kami, komposisi bahan di aluminium pada bagian tersebut berbeda karena pengecorannya kurang sempurna.

Kemudian kami memberikan cara-cara untuk mengatasi masalah tersebut, dan setelah diproses ulang, hasilnya menjadi sempurna, tidak muncul gelembung (blister) lagi.

Contoh kasus 2 :

Pada saat mengerjakan tabung shock di bak nickel, ada bagian yang sudah kilapnya bagus dan ada yang tidak mau kilap meskipun waktunya sudah lama.

Setelah diamati permukaan bagian yang tidak kilap agak kasar (seperti kulit jeruk).

Setelah dikonsultasikan, kami memberikan cara-cara perbaikan tanpa perlu diproses ulang mulai pertama lagi, dan hasil akhirnya memuaskan, tidak ada perbedaan lagi.

Contoh kasus ke 3 :

Dari bengkel chrom binaan kami di sumatera, kami menerima info bahwa ada satu jenis bahan aluminium yang tidak bisa dichrom.

Padahal peralatan dan bahan kimia di bengkel chrom tersebut sudah komplit. Segala cara sudah dicoba, baik melalui zincate, copper strike, cyanide copper, acid copper, semibright nickel ataupun bright nickel. Baik itu diproses sendiri-sendiri atau kombinasi.

Bahan tersebut memiliki sifat yang berbeda dengan aluminium biasanya.

Bahan tersebut mengeluarkan busa waktu dimasukkan ke cairan nickel. Bukannya terjadi lapisan nickel, malah bahan tersebut terkikis (larut) dalam cairan nickel.

Kemudian bahan tersebut di kirim ke kami, dan setelah kami coba dan analisa, kami simpulkan bahan tersebut tidak bisa diproses nickel.

Apabila bahan tersebut ingin di chrom, harus melewati beberapa proses tanpa melalui proses nickel. Dan bahan kimia untuk proses tersebut cukup mahal dan tidak stabil. Jadi harus investasi bak dan cairan lagi. Sehingga tidak sebanding dengan biaya chrom.

Untungnya bahan tersebut umumnya hanya terdapat di motor china, sehingga order chromnya jarang.

Contoh kasus untuk chrom besi :

Bengkel chrom binaan kami di sumatera mengerjakan knalpot vario, dan hasilnya sudah bagus. Hanya setelah dipasang di motor dan dikendarai, bagian leher chromnya mengelupas. Padahal mereka pernah mengerjakan knalpot mio, tidak masalah.

Mereka menduga bahan besi di kedua knalpot tersebut berbeda, dan hal ini dikonsultasikan ke kami.

Kami beri informasi, bahwa bahan besi dari knalpot tersebut sama. Dan mengelupasnya chrom di leher knalpot vario disebabkan karena ada perubahan kondisi cairan atau proses tanpa disadari, sehingga hasilnya berbeda dengan waktu mengerjakan knalpot mio.

Setelah kami menanyakan kondisi dan cara kerja, kami memberikan solusi untuk mengatasinya. Dan akhirnya maslah tersebut teratasi dan tidak pernah muncul lagi.

Bagian leher knalpot memang sangat riskan, karena panasnya yang tinggi ( sekitar 700  celcius). Panas tersebut membuat lapisan chrom menjadi kekuningan (terlihat nickelnya), tetapi tidak mengelupas bila daya rekatnya kuat.

Untuk bahan besi, hasil chrom dari peralatan dan cara kerja yang kami berikan di pelatihan dijamin daya rekatnya. Bahkan kami pernah mencoba dengan memukul pakai palu di injakan tengah atau mengadu 2 pipa yang sudah dichrom. Permukaan besi jadi penyok, tapi lapisan chromnya tetap tidak mengelupas.

Dalam proses chrom, makin lama kita terlibat di dalamnya, makin banyak pengalaman dan pengetahuan yang kita dapatkan. Kecuali kalau kita asal-asalan dalam kerjanya.

Itulah kenapa kami kadang bingung kalau ditanya, “Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk belajar chrom sampai menjadi mahir?” Karena sampai saat ini kami merasa masih belum mahir, dan mesti belajar terus.

Feb
26

Brass Plating

Posted by: | Comments (4)

Brass / kuningan merupakan campuran logam (alloy) dari Zinc (seng) dan copper (tembaga) dengan kadar 60 % copper – 40 % Zinc atau 70 % copper – 30 % Zinc.

Brass Plating

Brass Plating berarti pelapisan logam kuningan pada logam lain. Warna yang dihasilkan dari Brass Plating mendekai warna Gold (emas), sehingga Brass Plating biasanya digunakan untuk dekoratif plating.

Brass Plating banyak digunakan di furniture, aksesories sepatu, tas, dan ikat pinggang.

Untuk menghasilkan lapisan mengkilap, Brass Plating biasanya dilakukan setelah lapisan Bright Nickel Plating. Berhubung lapisan Brass Plating mudah teroksidasi dan tidak tahan gores, maka diperlukan proses lacquer atau pelapisan cat clear (bening).

Lapisan Brass plating hanya berungsi sebagai pewarna, sehingga lapisannya tidak perlu tebal. Untuk ketahanan lapisan tergantung dari kualitas lacquer atau cat clear.

Komposisi Larutan Brass Plating

Brass Salt                       90 – 100 gr/Lt

Ammonia                                  2 ml /Lt

atau

Ammonium Chloride         3 gr/Lt

Kondisi Operasi

Temperatur                            28 – 50 Celcius

pH                                              9,8 – 10,6

Anoda                                     60 – 70 % copper

Voltage                                   3 – 4 Volt (suhu ruangan)                   2,5 – 3 Volt (panas)

Waktu                                    1 – 2 menit

Warna lapisan dan penyebabnya

Lapisan terlalu merah, disebabkan karena terlalu panas, kadar ammonia atau zinc kurang, atau kadar tembaga tinggi.

Lapisan terlalu pucat, disebabkan karena terlalu dingin, kadar tembaga dan free cyanide kurang, atau volt terlalu tinggi.

Add to Technorati Favorites